Diatas Langit, Melihat Kebawah
“There will always come a day”
Faith.
Aksi
yang tak akan pernah dimengerti.
Dari segala hal yang seharusnya terjadi,
Dari segala variabel yang dimiliki,
Akan kembali kepada sejumput “faith”.
Akan ada hari dimana diri ini akan dipertemukan oleh seseorang yang dapat mengingatkan kembali akan salah satu tujuan dari turunnya manusia pertama dari langit. Dari setiap bagian pahit hidangan yang ditawarkan oleh hidup ini pasti akan ada kemanisan sebenarnya yang kita lewatkan. Banyak yang melewatkan, termasuk saya sendiri digolongkan sebagai orang yang gagal melihat pelangi setelah badai hebat yang terjadi diantara kita dahulu. Tidak akan pernah lupa, pelajaran yang akan ku genggam untuk melewati segala kesulitan yang menghadang. Mempunyai sedikit keyakinan sudah lebih dari cukup untuk melihat segalanya.
Setiap
hasrat dari keinginan permai yang tertanam dalam hati selalu menemukan jalannya
pada ambang batas. Mimpi-mimpi indah harus terbangun akan kerasnya bunyi kenyataan
yang seakan selalu menjadi pengingat akan eksistensi dari bidang yang kita
tempati. Sesuatu yang kita inginkan memang harus seimbang dengan apa yang kita
punya. Ketidak-seimbangan antara keinginan dengan kenyataan akan menyebabkan
suatu konflik internal pada diri kita, dimana kita sendirilah yang dapat
menyelesaikannya. Mantra lama mu akan terus menjadi suatu pengikat takdir dalam
hidup ini. satu demi satu mimpi-mimpimu akan menjadi kenyataan bagiku. Mengapa
mantra mu itu hanya manjur kepada ku? Mungkin sedikit terdengar apatis jika
memang apa yang aku punya sekarang hanyalah berkat dari keyakinanmu atau
keberungtungan semata. Berjuta-juta waktu bagiku untuk merenungi kegagalan,
tidak sejumput usaha yang membawaku sampai disini. Sedikit keyakinan tidak akan
membunuh namun apa gunanya terbang berangan-angan jika tidak ada aksi untuk
meraihnya kan? Aku harap ini mimpi terakhir kita yang akan menjadi sebuah
kenyataan ironis. Tentu indah pada masanya, menemani disaat waktu terkelam
sampai melihat kerasnya perbedaan terkikis oleh derasnya kasih sayang. Tidak
pernah memikirkan makna yang sebenarnya terkandung dalam suatu frasa kata yang
begitu singkat itu, tetapi waktunya aku membuat keberuntungan dan mimpiku
sendiri.
Buku petualangan yang menceritakan prihal jodoh, kematian
dan rezeki dari setiap makhluk sudah dicetak rapih pada saat kita masih
didalam. Setiap orang memiliki kisah petualangan tersendiri yang akan
dipertanggung-jawabkan sejajar dengan setiap keputusan yang diambil untuk
membentuk suatu petualangan yang seru. Kebebasan tokoh didalam buku untuk
mengambil keputusan akan menjadi sesuatu yang menarik dalam setiap kisah
kehidupan ini. tentu tidak ada yang mengetahui detail yang telah tertulis,
namun apakah pemikira tentang “semua sudah ada yang mengatur” akan mengatur
kita?
Pertanyaan yang harus ditanyakan pada diri kita sebelum
bermimpi untuk menggapai sesuatu adalah; “sudahkah kita bisa mengontrol diri?” Untuk
meraih suatu pencapaian yang kita rencanakan, diperlukan suatu metode
perencanaan yang matang. Didalamnya kita harus dapat menjawab “siapa” atau “apa”
yang masih menghambat kita untuk meraih suatu pencapaian. Saya pribadi
menyadari bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan dimana perencanaan itu akan
berdampak besar kepada diri sendiri, harus menghilangkan beberapa aspek
eksternal yang mengganggu jalannya pencapaian. Hal yang dapat menghambat ini
biasanya terlihat mengikat namun sebenarnya tidak terlalu penting.
Pencapaian
telah diraih dengan bentuk transisi kehidupan ideal sesuai dengan mimpi. Kunci
dari terjadinya peristiwa hijrah ke Kota Bandung merupakan perpaduan dari
kiat-kiat sukses yang selama ini tidak ditemukan ditempat lain, selain pojok
hati yang akan terus bermimpi. Ego yang menyetir hati, mengatur otak ini untuk
berusaha semaksimal mungkin meraih keinginan lama, akan terasa setimpal dengan
pencapaian sesuai ekspektasi. Rutinitas yang kita kerjakan harus kita
tinggalkan demi tercapainya hal baru. Kita tidak akan bisa mencapai sesuatu
jika kita tetap berjalan di jalan yang sama. Dibutuhkannya sesuatu yang baru
sehingga sebagai output kebiasaan/rutinitas kita terlihat kuno. Mungkin itu
sebagai motivasi, tapi sudah seharunya kita berpikir secara rasional. Pencapaian
yang kita rencanakan adalah sesuatu hal yang baru, bukan hasil dari rutinitas. Kita
harus melihat fakta dimana hal ini membutuhkan pendekatan yang baru sehingga
kedepannya menghasilkan output yang berbeda. Sesuatu pencapaian tidak selalu
dinilai dari seberapa besar atau penting pencapaian tersebut, suatu pencapaian
bisa menyentuh ranah sederhana sebagai sesuatu hal yang baru diluar rutinitas. Kesempatan
untuk memenuhi mimpi menimbah ilmu di kampus idaman ataupun sekedar bangun pagi
di akhir pekan, tentu bisa menjadi hal patut kita hargai.
Hakikat
keyakinan yang sudah terintegrasi didalam diri ini berupa sebuah kejelasan
dalam mengetahui apa yang saya mau dan mengkondisikan pangkal pikiran kita
untuk menyesuaikan konsep dari mimpi-realita. Kejelasan dalam menggambarkan
sesuatu yang kita mimpikan dapat menciptakan ilusi didalam pikiran kita secara
mendetail. Ilusi inilah yang akan digunakan dalam proses perencanaan untuk
meraih pencapaian tersebut. Jika kita menginginkan sesuatu, tentu tidak akan
terbentuk dengan sendirinya. Hal-hal ini akan diam tak terbentuk jika memang
kita tidak memiliki segenap kemauan untuk membentuknya, meski dengan sejuta
keyakinan pun tidak akan tercapai jika tidak ada aksi yang mendukungnya.
Suatu kausalitas kita berdiri disini dari setiap plot
cerita kehidupan yang terbentuk dari keputusan-keputusan kecil. Segenap peristiwa-peristiwa
dan faktor lainnya merupakan tangga yang mengantarkan mu sampai dilantai yang
kita pijak. Suatu pencapaian yang didalamnya penuh dengan perubahan tidak akan
terjadi akan stagnannya kedisiplinan. Menggenggam kedisiplian dan menjaga
keseragaman dari momentum kehidupan akan membawamu pulang, jalan yang sama
tidak akan pernah ke kota. Orang yang sukses akan selalu proaktif dalam setiap
wacana yang telah di sepakatinya. Dapat merangkul buruknya hari dan menyerap
setiap kegagalan. Tidak ada yang sendirinya akan meluncur keatas tanpa adanya
gaya yang mendorong, untuk itu memang benar sukses ditakar oleh hari yang
kelam, badai dan hujan.
Bukan hari yang cerah.
My greatest
perhaps?
The name of the book was “Looking for Alaska”. My first John
Green’s book that I will certainly not forget anytime soon. I read it back in
2012 and didn’t know my current situations recall some of the storyline from
the book. The story center about one teenager who enrolled boarding school to try to gain a deeper
perspective on life, seeking his “great perhaps” in which revolves around a girl named Alaska. Well this
is definitely not a review writing nor the summary of it, but I recommend this
book if you want to check it out. Anyways, things that would recall my current
situation and this book was the effort on how to see thing differently. Currently
I’m in the stage of questioning everything that I know and compare them to
everything in the basis actual case of life. Surely the effort had only begun
in this past weeks because college turns my perspective upside down. The connection
between his “great perhaps” and mine was the idea of becoming more delicate on
how to see things differently and the big “what if” still present on our decisions
making process.
“The Great Perhaps” was the ultimate
truth, the great Meaning of Life and
Death. The idea of the whole “perhaps” for me was the one sole purpose
on why we live in this world, the meaning of life we had entrusted with. There’s
a lot of motion that is still unseen by me and maybe there’s a lot more meaning
to this life out there. The things I got so far will be exclusively explained
according to what I have seen through these eyes.
The thing about destiny are written. Like I mentioned
before, everything had been said as if we are meant to ride this roller coaster
of life, up and downs as passenger, knowing it would all come to an end. My
greatest perhaps would be on the concept of the living as a passenger itself. Like
right now, I am in the stage of getting what I want from the beginning, which
was ITB. Despite the sweet bliss it promised, Why should I go through one year
before completing things I started the year before? what if I missed something along
the way? What if I missed the major variables by looking at something that
seems to be a major variable? Perhaps it will keep being my biggest perhaps, or
it just one of my distress weakness on letting stuff go.
Who knows.
Time will be the jury.
This is my story, Where
yours- Nigs

Komentar
Posting Komentar