Kisah Kebangsaan
“Have you ever felt like you’re drowning alone in the middle of a sea full of people?”
18 Agustus 2016
Sudah
seminggu lamanya menginjakan kaki di kota Surabaya, tidak terasa waktu berjalan
begitu cepat dan saya harap bisa berjalan lebih cepat lagi. Belum lama saya
sudah merindukan keluarga saya. Tidak mudah untuk menyesuaikan dengan keadaan
saat ini tetapi saya mulai betah dan menyukai tempat yang saya tinggali. Ditemani
dengan aktivitas produktif setiap harinya dan teman-teman yang walaupun belum
akrab, namun saya masih bisa bersenang-senang dan berbagi pengalaman. Tidak ada
hal lain yang dapat menghilangkan perasaan rindu selain menyibukkan diri. Memang
betul, ada saat dimana semua kesibukan sudah dilalui dan meninggalkan hanya saya
sendiri merenungi hari di kamar kos. Waktu-waktu seperti ini dimana kita mulai
untuk memikirkan keluarga dan teman-teman yang kita sangat rindukan tidak dapat
dihindari. Bayangan dari semua petualangan bersama teman-teman sampai
kehangatan pelukan ibu terasa saat setiap saya sedang melamunkan hari saya
sehabis solat isya di masjid sebelah kosan. Dari hal sekecil kesempatan untuk
berkumpul merasakan kekeluargaan sampai pengalaman yang tidak pernah terlupakan
dengan teman-teman semasa SMA. Hal yang tak terhindarkan seperti ini memang
tidak harus dipaksa, namun di terima dan direnungi. Betapa indah dan enak
memiliki semua dan seharusnya bersyukur dengan setiap hal yang kita miliki
sebelum kita kehilangan hal tersebut. Belum tentu orang lain mendapatkan apa
yang anda dapatkan, oleh karena itu bersyukurlah.
Hindarilah
pemikiran-pemikiran yang membuat anda “home-sick”. Semua orang yang merantau
dari kampung halamannya mempunyai cara sendiri untuk menyibukkan diri dan
mengisi waktu. Memang setiap orang berbeda dalam tujuan, seperti “pengen move
on daric ewe” atau Cuma sekedar mengisi waktu luang. Jika mau melihat dari
saya, saya suka mengisi waktu dengan menulis atau bermain. Tidak perlu ditanya
dengan belajar karena itu bukan aktivitas mengisi waktu, melainkan suatu
kewajiban kedua setelah kewajiban agama. Mengisi waktu dengan teman atau
membaca juga salah satu pengisi waktu yang ampuh. Jika ingin badan terlihat
segar, olahraga dengan rutin setiap hari dan anggap saja sebagai pengisi waktu
luang lainnya.
Hari
ini melakukan pelatihan kebangsaan dan kerohanian bersama 940 orang lainnya. Hari
ini ditujukan untuk mengenalkan serta membangunkan rasa kebangsaan terhadap
semua mahasiswa ITS yang baru. Tidak lupa dengan program materi kerohanian di
design segenap mungkin untuk memotivasi dan menciptakan akhlak setiap jiwa
muslim yang ada di ruangan tersebut. Rasanya ingin tenggelam dalam keramaian. Saya
tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang ada di angkatan saya jika memang
ada 3 sesi sebelum saya dan 1 sesi terakhir keesokan harinya. Dengan pelatihan
ini saya mendapatkan banyak hal. Meskipun kebanyakan anak tampak tertidur pulas,
dengan senior-senior yang tidak lelah untuk membangunkan, saya tenggelam dengan
motivasi dan inspirasi tersendiri. Jika saya tulis pengalaman dan apa yang saya
dapatkan hari ini, mungkin anda akan bosan membacanya karena terlalu banyak. Mungkin
saya akan tulis bersama pengalaman hidup lainnya.
“Jiwa kebangsan tidak hanya dilihat dari kepalan tangan dan kerasnya teriakan “merdeka!”, tetapi dari jiwa dan semangat nasionalisme untuk membangun dan mengembangkan bangsa sesuai dengan kajian Islam”.
Materi
kebangsaan yang ditempatkan pada jatwal pagi dapat mencuri perhatianku. Ditengah
kantuknya pagi disertai dengan beban malas yang tidak dapat dihindarkan, serasa
hilang dengan wabah semangat yang disebarkan pada graha ITS pagi tadi. Saya adalah
orang yang sangat mencintai negara Indonesia. Tidak pernah mendapatkan nilai rata-rata
dibawah 90 di pelajaran PKN dan lulus hingga tahap terakhir USM STAN, saya kira
cukup untuk membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya memiliki jiwa nasionalisme
yang tinggi. Saya memiliki banyak pengalaman yang saya ingin kontribusikan untuk
membangun negeri ini. Oleh karena itu, saya sangat tertarik dengan materi
kebangsaan yang disampaikan. Apalagi dikaitkan dengan ajaran sesuai kaidah
islam, pagi itu sangat menggunggah rasa untuk mencari tahu dengan mendengarkan
dengan penuh perhatian.
Setiap
orang mengekspresikan rasa nasionalisme mereka dengan berbeda. Ada orang yang
mendedikasikan hidupnya untuk negara. Ada juga orang yang hanya berkontribusi
dengan bidang karir yang digeluti mereka. Apa yang dapat mahasiswa berikan
kepada negara Indonesia?
Sesuai
yang saya dapatkan hari ini, kita harus yakin bahwa semua yang kita lakukan
adalah hanya untuk satu hal. Satu hal itu adalah percaya kita melakukan sesuatu
yang mulia dan berlomba untuk menjadi orang yang beriman kepada Allah S.W.T.
lakukanlah segala hal dengan niat dan kepada Allah. Kita belajar niat karena
Allah. Kita bernapas dan hidup karena Allah. Kita juga cinta pada bangsa ini
karena Allah. Pada kesimpulannya, setiap perbuatan yang kita lakukan adalah
karena izin dan kehendak Allah. Semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan dan
dikembalikan kepada Allah. Maka oleh karena itu kita harus berdoa dan memohon
kepada Allah, setiap perbuatan yang kita perbuat akan di berkahi oleh-NYA. Ammin ya’ rabbal alamin.
Kedua,
dengan menyakini hal tersebut; kita dapat mengartikan apa itu arti jiwa
nasionalisme dana pa yang kita dapat berikan kepada negeri yang tercinta ini. Negeri
kita adalah negeri yang kaya akan sumber alamnya. Seperti yang saya pernah
tulis dan dikajian pagi tadi juga sempat disinggung, adalah bagaimana kita
dapat memajukan kemandirian untuk mengelola sumber kaya kita sendiri. Sebagai
Mahasiswa, kita cukup menjiwai dan memanknai apa itu nasionalisme. Dengan adanya
jiwa nasionalis yang merasuki roh kita,
kita dapat dengan sendirinya menimbulkan rasa cinta yang akan nantinya
berkontribusi melalui karya dan aksi untuk membangun negara ini. Contoh yang
paling sederhana yang dikaji tadi pagi ialah, bagaimana menjiwai arti kata
nasionalisme dengan belajar dengan sungguh-sungguh. ITS adalah kampus rakyat. Dimana
kebayakan dari orang yang bersekolah disini hanya membayar 2 juta per bulan. Keringanan
yang diberika ini datang dari uang negara dan uang masyarakat. Dengan belajar
lebih giat dan lulus dengan tepat waktu, kita dapat memberikan hak dan
kesempatan orang lain untuk mendapatkan keringanan yang diberika ini.
Contoh
yang lebih kompleks adalah berprestasi. Tidak banyak orang yand dapat
berprestasi. Tidak banyak juga orang yang berprestasi untuk negeri ini. Kebanyakan
orang yang disekolahkan diluar oleh negara akhirnya memilih untuk menetap
disana dan mengembangkan negeri orang. Indonesia adalah negeri yang paling
hebat jika dikembangkan oleh orang-orang yang hebat. Indonesia pernah ditakuti
oleh seluruh dunia pada saat dipimpin oleh orang hebat yang bernama I.R
Soekarno. negara akan menjadi negara yang hebat jika manusia-manusia yang
menetap untuk membangun negara tersebut hebat juga. Paham dan semangat
nasionalisme yang mulai pudar semata untuk memperkaya diri harus segera diganti
dan dirubah. Hal ini hanya bisa terjadi jika diawali dengan kita para mahasiswa,
pemuda penerus bangsa ini.
“Cintailah bangsamu sebagai orang yang beriman kepada Allah S.W.T”.
Sesuai
kutipan yang saya dapatkan pagi ini, banyak paham ekstrimis dimana menghormati
bangsa adalah perbuatan maksiat yang berbau menyekutukan Tuhan. Dimana banyak
pahan menghormati bendera juga memiliki unsur mennyekutukan Tuhan. Ada sebuah
kisah sahabat nabi. Kisah ini menyisahkan sahabat nabi yang pergi berperang
membawa bendera orang islam melawan orang kafir. Singkat cerita didalam
peperangan itu, tangan kanan sahabat nabi terpotong dan dengan tangan kirinya
segera beliau mengambil kembali bendera tersebut dan kembali tangan kirinya
terpotong dan beliau memegang bendera dengan bahu yang tersisa yang akhirnya
mati syahid karena terpenggal kepalanya dalam peperangan. Kisah ini membuktikan
bahwa rasa bangga dan hormat nya kepada bangsa dan bendera tidak mengotori
paham beragama, dengan pesan nabi Muhammad S.A.W kepada sahabatnya kelak akan
diganti kedua tangannya dengan sayap di surga nanti. Oleh karena itu, kita
sebagai penerus bangsa harus dapat memilah dan menyaring ajaran-ajaran yang
tidak sahih dan tetap teguh berpegangan dalam iman. Rasa cinta terhadap bangsa
dan negara hanyalah untuk menjadi orang yang beriman.
Wes ngantuk rek, kita simpulkan disini.
Jiwa
nasionalisme harus dapat meresap kedalam jiwa seluruh pemuda Indonesia sebagai
warisan bangsa untuk meneruskan perjuangan membangun bangsa ini. Dengan rasa
cinta akan bangsa dan negara yang disertai dengan kepercayaan sebagai orang
yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, niscaya masa depan bangsa Indonesia
akan melampaui apa yang leluhur kita pernah capai dimasa keemasan.
“This
is my story, where’s yours”- Nigs

Komentar
Posting Komentar