Persamaan Kehidupan
“Setiap yang berjalan
dengan tali kebimbangan sebagai hasrat dan makna kehidupan, Jiwa akan selalu
mencari cara untuk memadatkan kehampaan hati yang telah lama tak berpenghuni”
Kadang kita selalu beranggapan
bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Selalu berpegangan dengan asas
transendensi, bahwa kehidupan ini tidak lepas dari hubungan erat antara alam
semesta dan Sang Penciptanya. Cerita tentang kisah hidup ini tidak lebih dari
seseorang yang ingin menjalani hidupnya sesuai dengan kepercayaannya. Dapat dikatakan,
jiwa ini seperti jiwa-jiwa lain yang mempunyai metode “artistic” masing-masing untuk mewarnai hidup ini sebelum kekekalan
menjemput. Hidup ini memang sementara, ya aku mengakuinya. Namun, apakah hal
yang telah diperbuat mencerminkan imanku kepada kehidupan yang fana ini?
Banyak hal baru yang dapat dipetik setiap harinya. Duniaku bagaikan
taman bunga inspirasional yang akan selalu tumbuh dan mekar seiring dengan
membusuknya umur. Jika jiwa ini akan berjalan, melangkah dan hendak berpegangan
pada tali kebimbangan.. so be it!...
Hati dalam jiwa ini
tidak akan pernah terisi dengan hanya melihat ukiran kejayaan sejarah masa lalu
maupun merenungi pecahan-pecahan mimpi yang telah ternodai. Apa yang jiwa ini telah
lalui akan selalu menjadi tamparan untuk jiwa yang sekarang. Apa yang jiwa ini lakukan
sekarang akan menjadi pijakan untuk jiwa yang akan datang. Semua jiwa yang berjalan
pada jalan kebimbangan akan selalu mencoba untuk mengisi kekosongan hati
mereka.
Dengan tulisan ini, tahuilah isi hati jiwaku
sejauh ini.
Budak Intelektual?
Banyak hal yang telah dilihat oleh jiwa ini semenjak adanya
duri yang tak kunjung pergi didalam hati. Kesadaran akan kondisi lingkungan
sekitar akan selalu menjadi hal yang pertama merasuki kosongnya hati. Tidak dapat
dipungkiri, derajat jiwa ini sebagai anak teknik akan selalu dicap masyarakat
sebagai golongan anti sosial. Rendahnya kepedulian akan kehidupan berpolitik
dan minimnya kontribusi secara garis besar, menempatkan jiwa ini sebagai budak
intelektual. Tentu, kadang kita tidak menyadari akan adab-beradab dari hal –hal
yang ada disekitar kita. Eksistensi dari berbagai macam adab dan norma didalam
kehidupan bermasyarakat, akan selalu menjadi tolak ukur dalam majunya sebuah
keperadaban.
Didalam ruang lingkup kampus, adanya suatu adab yang
membuat mata jiwa ini melirik dengan kegemparan. Anak Teknokrat menyebutnya “Adab
Berilmu”. Stereotyping akan selalu menjadi icon bahwa anak teknik = orang
teknis. Jiwa ini tidak dapat menyalahkan statemen tersebut, jujur hati jiwa ini
selalu mengetahui akar dari segenap penyelesaian kehidupan secara teknis. Beberapa
hal yang harus dimengerti sepenuhnya sebelum menghayati apa arti dari adab
berilmu ini.
Setiap jiwa harus mengerti bahwa untuk mengangkat derajat
dari kehidupan ini akan memerlukan dua aspek yang berhubungan dengan asas transendensi
dan kemajuan zaman. Kedua aspek ini melainkan “Ilmu” dan “Iman”. Derajat dari
kedua aspek ini akan saling melengkapi untuk menciptakan kepribadian yang
sempurna demi kemajuan bangsa dan negara ini. Derajat Keilmuan, merupakan
variable yang tidak pernah konstan dari setiap pribadi. Hal ini berhubungan
dengan keindahan struktur berfikir yang menciptakan keberagaman. Derajat
Keimanan, akan selalu parrarel dengan kekuatan kepercayaan akan Tuhan Yang Maha
Esa. Berteguh dengan asas transendensi terciptanya korelasi antara kemanusiaan
dan ketuhanan. Korelasi berTuhan dimana
setiap jiwa, dituntut untuk saling mengasihi sebagai bentuk pengimplementasian
ibadah dan pengabdiaan mereka. Keberhasilan dalam mengembangkan dan mempadukan kedua
derajat kehidupan ini sangatlah krusial dalam membentuk karakter yang peduli
akan sesama.
Seorang budak hanya mengerti apa yang mereka lakukan. Jika kita
menempatkan diri sebagai sesosok yang hanya mengerjakan namun tidak mengerti
mengapa kita mengerjakannya, kita tidak jauh dari derajat si budak.
Hanya Budak
Intelektual.
“Derajat yang Tinggi”
Jiwa ini selalu membayangkan apa warisan yang layak untuk
ditinggalkan lama setelah daging dan darah ini bersatu dengan bumi. Tentu,
dengan menulis kita sudah membuat ukiran sederhana yang lama akan terkikis oleh
waktu. Namun hal apa yang layak untuk ditinggalkan demi mengharumkan nama di
hati jiwa-jiwa yang lain? Jiwa ini sudah lama menyadari bahwa waktu senang akan
terlupakan dan harta tahta pasti akan terkikis oleh lamanya waktu. Jika memang
derajat yang dicari, maka tinggalkanlah sesuatu yang bermanfaat dan abadi.
“Tidak ada yang abadi ham”
Seperti suara yang
mendengung dari setiap inci dari kekosongan hati yang lama menghantui. Tidak! ..
Pasti ada yang abadi. Harus ada….
Setelah mencari-cari ku
temukan jawaban pasti.
ILMU
Ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dapat merasuk pada setiap
ruas tulang dari diri manusia, ilmu yang terasa kepada orang lain merupakan sebuah
sangkalan sempurna untuk melawan perkataanmu dahulu. Layaknya dua ruas pedang,
ilmu akan selalu menjadi suatu ujung dari kebajikan, dan ujung dari segala
kejahatan. Kegagalan dalam pengaplikasian ilmu dan ketidak-ikhlasan penyampaiannya
menyebabkan sifat “individualis” yang akan merusak rantai kepribadian manusia. Pemberian
ilmu adalah suatu proses. Berawal dari niat dalam membagi ilmu, dimana niat
akan berimplikasi kepada semua yang kita lakukan. Salah satunya adalah
kepercayaan akan “keikhlasan sangat abstrak”. Jika dilihat sekarang, jiwa ini
mungkin lebih pintar dari guru TK, guru SD,SMP,SMA, namun jiwa ini harus tetap menghormati
mereka dan menghargai proses yang membuat jiwa ini sampai disini.
Konsep ilmu dalam kepentingan alam semesta menempatkan
manusia untuk selalu mencari tempat bersandar. Sekulerisme yang ada dalam
kehidupan hanyalah sebagai pemisah kehidupan dan bertuhan yang seharusnya tidak
ada. Konsep ini menempatkan ilmu bertentangan dengan ketuhanan. Keseimbangan antar
korelasi ketuhanan dan antar manusia akan selalu ada selama eksistensi ilmu dapat
diimplementasikan dengan benar. Jiwa ini merasa bahwa kita, manusia, merupakan
perwakilan Tuhan. Jiwa ini merasa bahwa dengan adanya ketergantungan yang ada
antar manusia, menjadikan setiap jiwa dari manusia merupakan perwakilan akan
Tuhannya bagi manusia lain
Konsep dari persamaan kehidupan ini sama seperti grafik
yang ditunjukan diatas. Layaknya kapal tanpa awak yang dikemudikan oleh waktu,
hidup ini seakan memiliki titik tertinggi dan terendah. Persamaan inilah bagi
jiwa ini representasi nyata dalam kehidupan dimana, dibutuhkan suatu proses
untuk menempati setiap fase dari kehidupan yang dititipkan oleh Sang Kuasa. Fase-fase
dimana kita terkadang ada di titik tertinggi dari hidup kita maupun titik
terendah yang harus terlewati demi terciptanya suatu gelombang yang harmonis.
Persamaan Kehidupan
Banyak hal yang tidak terduga terjadi pada semester kemarin.
Hal-hal inilah yang menjadi butiran memori yang akan menyusun pribadi dari jiwa
ini kelak nanti. Padatnya Unit Kegiatan Mahasiswa yang disertai oleh banyaknya
materi perkuliahan tidak kunjung mengisi kekosongannya hati ini. Namun, satu
dua momen diantara segala kesibukan aktivitas ini seakan sekejap menghidupkan
semua sensor yang ada didalam jiwa ini, yang membuat jiwa ini merasa gembira
seakan berada di “rumah”. Entah apakah momen-momen ini berupa canda tawa di
angkringan, momen dimana jiwa ini mendapat pencapaian yang memuaskan, atau
momen sederhana seperti menyadari bahwa dunia ini tidak seburuk yang mereka
katakan (bersyukur). Semua memiliki caranya sendiri dalam menghiasi kehidupan,
entah apa yang dilakukan akan menuntun jiwa ini kejalan yang lebih baik, kita
hanya bisa percaya apa yang kita lakukan itu benar dan menyerahkannya kepada
Sang Maha Kuasa.
“yeah... everything
happens for a reason”
Pada awal dari segala pembelajaran pasti ada suatu struktur
organisasi yang ada demi lancarnya kelangsungan belajar-mengajar. Awal dari
segalanya, jiwa ini menginginkan untuk menjadi ketua kelas dari mata kuliah
fisika dasar 1 dimana, alasan mengapa jiwa ini mengajukan diri untuk menjadi
ketua kelas dikarenakan hanya inilah mata kuliah yang menarik. Semua orang
dapat memantapkan niat mereka sesuai dengan pandangannya masing-masing, namun
jika kisah hidup kita sudah tertulis dibuku takdir, maka tidak dapat dipungkiri
hal-hal yang tak terduga inilah yang akan menghidupkan kita. Pada kisah kali
ini, jiwa ini diceritakan sebagai ketua kelas tidak hanya untuk kelas Fisdas,
namun 3 matkul lainnya.
Mata kuliah Calculus datang sesudah Fisika dikelas yang
sama, dimana hal ini secara tidak langsung membuat jiwa ini menjadi pengurus
kelas secara beruntun. Tentu, titip absen tidak pernah menjadi opsi dalam kamus
karena jiwa ini adalah sesosol yang dicari jika ada permasalahan didalam kelas.
Sub-topik kali ini memang bukan untuk menyombongkan diri, maupun memberi “trick and tips” untuk menjadi ketua
kelas yang baik, tetapi untuk memberi satu pengalaman yang tidak terlupakan.
Mata kuliah calculus 1 memang bukan incaran untuk jiwa ini
mendapat nilai maksimal karena memang dari dulu jiwa ini tidak memiliki
kemampuan Matematika yang baik. Jiwa ini diberi kesempatan untuk mendapatkan
dosen yang sangat luar biasa, tidak hanya membagikan ilmu, membagikan pelajaran
hidup merupakan motivasi untuk melawan kantuk disiang hari. Dengan
menyampingkan segala rumus dan teorema fundamental kalkulus, jiwa ini
mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Persepsi baru tentang
kehidupan ini.
Berbicara soal persepsi ya Hmm.. tidak ada persepsi salah
atau benar karena memang ini adalah pandangan pribadi yang menjadi pangkal
pikir dari setiap individu yang berjalan di muka bumi ini. Persepsi membuat
indahnya keberagaman semakin mencolok dan menggaris bawahi konsep saling
menghargai. Namun kegagalan dalam mengkombinasikan antara persepsi dengan fakta
yagng ada dapat menimbulkan individu mengalami kegagalan dalam proses berfikir.
Jadi sekedar preface dari persepsi
baru jiwa ini, mungkin persepsi dibawah ini bisa dijadikan persamaan baru di
kehidupanmu.
Persamaan Gelombang Sinusoidal
Persamaan dan ekspresi kalkulus tidak pernah membuat jiwa
ini bersemangat, namun bisa dikatakan esensial demi keberlangsungan IPK. Tapi
sebelum menilai kehidupanku kita tidak akan membahas tentang persamaan kalkulus
atau ekspresi Matematika, hanya persamaan kehidupan yang didapatkan.
Menurut beliau hidup seperti grafik persamaan gelombang sinusoidal.
Bagi yang tidak tau bentuknya ataupun sudah batuk-batuk mendengar namanya,
grafik dari persamaan Matematika ini seperti gelombang yang berjalan.
Jiwa ini mempercayai bahwa hidup ini tidak akan selalu
berada di titik tertinggi sampai suatu hari tersadarkan akan satu ekspresi Matematika
yang juga berkaitan dengan elemen kehidupan.
“Tanda Mutlak”….
Suatu tanda yang
membuat semua ekspresi bernilai positif.
Dan apa kaitannya
dengan persamaan kehidupan jiwa ini?
Gelombang yang dimutlakan tidak akan pernah menyentuh
daerah negatif didalam setiap geraknya. Input kemutlakan yang diberikan akan memberi
output yang selalu positif yang akan bergerak diatas ambang negatif. Jika dari
segi persepsi jiwa ini, hidup bisa dimutlakan. Setiap tragedi yang menari
disekitar kita akan terlihat bewarna jika kita dapat memberikan suatu input
yang akan menghasilkan output yang positif dari setiap seginya. Memutlakan suatu
ekspresi matematika memang akan menghasilkan dua penyelesaian yang sedikit
berbeda, namun jika kita bisa memutlakan hidup, kita hanya akan mendapat satu
hal yang pasti. Gelombang hidup ini tidak akan pernah mencapai titik terendah
yang semestinya.
Mutlak dalam persamaan kehidupan yang disampaikan adalah
tetap mensyukuri apa yang ada disekitar kita. Dengan menghiraukan apa yang “kelihatannya
bagus” dan lebih memperhatikan apa yang diberkahi kepada kita akan membuat
hidup ini selalu terasa di ambang titik tertinggi.
“Stay Positive”
Banyak hal yang bisa digunakan untuk memutlakan persamaan
kehidupan ini. salah satunya dengan mengalahkan ego manusiawi yang dalam
tertanam dalam diri dan selalu melihat sisi terang dari gelapnya permasalahan
yang ada. Banyak hal yang didapat dengan memelihara sikap positif di kehidupan
kita. Jika tidak percaya, coba mengerjakan
soal yang mengandung unsur nilai negatif, pasti akan lebih rumit dilalui dibanding
hal yang mutlak.
Seperti halnya
kehidupan ini.
“This is my story, where’s yours?”-Nigs


Komentar
Posting Komentar