KISAH KERETA MALAM

For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel’s sake. The great affair is to move” – Robert louis Stevenson


12 Agustus 2016

          Sudah sulit untuk mengingat kapan terakhir kali saya menumpangi kereta malam. Malam terdengar begitu sunyi hanya suara desisan rel kereta api yang menemaniku hingga ambang kantuk-ku. Hal yang dapat teringat pertama kali di benakku adalah pengalaman “live-in” yang diadakan oleh sekolahku. Kegiatan yang menjadi kenangan terindah semasa SMA-ku. Kegiatannya simple actually, saya dan teman-teman seangkatan hidup di sebuah desa entah-berantah hanya untuk mencari pengalaman susahnya hidup di desa dengan keterbatasan apa adanya. Tentu, untuk orang seperti saya tidak ada masalah. Saya hanya bocah kampung yang diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk bisa mencicipi rasanya kehidupan kota karena orang tua saya bisa dikatakan berlebih.  Although they had the money and the time, they still won’t give me everything I desire. UNTIL NOW. But nonetheless I’m so proud of them because who knew, anak bungsu dari lima bersaudara dari orang tua seorang petani dan guru SMA bisa sukses. I don’t blame them for the discomfort karena kenikmatan adalah suatu yang di diperoleh bukan diberi. ANYWAY, back to my experience dengan kereta malem hehe, yeah it was that night semua angkatan saya merasakan pahitnya hidup. I don’t remember what train it was but, kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi. Despite all the suffering, we still manage to have fun and made those nights memorable. I am probably going to write about it someday, but for now let’s get back to my current kereta malem journey.
          Dengan segala puji dipanjatkan, saya bersyukur dapat diberi kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November. Petualangan saya ke dunia luar baru saja dimulai. Dengan awalan tidak pernah berpisah dengan orang tua semenjak …… Well semenjak bernapas oksigen basically hehe, sekarang dapat memberanikan diri merantau ke Kota Surabaya. Saya didampingi dengan dua orang temen saya, satu saya kenal dari daftar ulang ITS kemarin dan satu lagi kenalan temen saya. So, I’m not that alone I guess...


          Malam semakin dingin dan akan terus bertambah dingin karena adanya AC rumah sebagai pendingin kereta di Indonesia. Saya heran siapa yang mengusulkan menggunakan “regular household AC” into “convenient public transportation AC” this just so horrible like you could probably get someone on hypothermia or something, please somebody fix this it’s terrifying. Kesunyian menyelimuti suasana, tidak ada sesuatu yang bisa dilihat lagi dari jendela keretsaya. Sesuatu yang mengusir kantukku setiap kali menutup mata, selain dinginnya AC, adalah pikiran resah-gelisah yang menghantui semenjak pengumuman penerimaan.
          Saya mengetahui sejak awal saya memang tidak se-kuat ayahku. Dibesarkan untuk berjuang, dilatih untuk bertahan hidup. Dia adalah salah satu pahlawan dan role model yang ada dalam hidupku. Saying sekali anaknya tidak dibesarkan untuk itu. Bukannya saya tidak bisa atau saya takut untuk mencoba, tidak, saya sangat tertarik dengan petualangan baru dan bergairah dengan pengalaman yang kutulis dengan sendiri. Namun, ada saja masalah yang akan tetap menghantui pikiranku yang dapat menghancurkan keberanian untuk berpetualang.
          Sebagai mahasiswa yang beranjak dari pola fikir seorang bocah menjadi pola fikir seorang dewasa dengan masa transisi secepat ini tentu tidak mudah. Aku yakin teman-teman ku yang merantau lebih jauh ke luar negeri akan merasakan hal yang sama, kegelisahan dan ketakutan akan tidak dapat menyesuaikan diri. Semua orang bergantung kepada sesama, untuk itu penyesuaian adalah hal yang wajib bisa di adopsikan dari kecil. Saya adalah seorang yang dapat dikatakan ‘adaptive”. Setiap 3 tahun saya sudah beranjak kaki dari kampung ke kota-kota besar demi mengikuti pekerjaan dinas ayahku. Tentu hal ini menyebabkan aku dapat beradaptasi dengan mudah.
          Waktu terasa berjalan sangat lambat di kereta ini. Apakah kereta ini memiliki some sort of gravitational pull, which so great that allows time distortion ?? or? nah I’m joking, mana mungkin. Saya sangat bersyukur di anugerahi kecerdasan dan pikiran yang tidak ada habisnya dalam imaginasi. Believe it or not, sepanjang perjalanan saya selalu memikirkan sesuatu dengan cara pandang ilmiah. Dari berbagai cara pemanfaatan sumber daya alam yang kita miliki sampai berbagai cara untuk memajukan kesejahteraan umum dengam memaksimalkan teknologi untuk transportasi. Tentu, hal-hal seperti ini dating dengan sendirinya pada saat saya sedang melihat luasnya sawah atau mengamati struktur jembatan yang menurutku kurang efisien dalam segi design dan material. Tetapi seiring dengan waktu yang saya habiskan dengan menulis dan merenung di kereta malam ini, saya menemukan sesuatu.
I found my limits and undisputed peace…
          Cara untuk mengatasi rasa kegelisahan dan segala ketakutan yang kita buat di dalam pikiran kita adalah men-syukuri serta mempercayai ini adalah hal yang seharusnya terjadi. Saya percaya bahwa Tuhan saya sangat menyayangi saya and everything happens for a reason. Didalam setiap doa saya, saya panjatkan kalimat “ jika ini adalah yang terbaik buat saya, saya akan ikhlas menjalaninya. Sungguh Engkau lah yang maha tau apa yang paling baik untuk umat-mu”. Mungkin terlalu berpasrah terdengarnya, tetapi jika anda mempercayainya, maka anda akan menemukan ketenangan dan keikhlasan dalam melakukan segala hal yang menurut anda berat atau menakutkan.
          Saya merantau untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Saya melakukan ini agar saya dapat menemukan jati diri saya sendiri dengan menentukan tipe orang seperti apakah saya nanti dikemudian hari. Ketahuilah, apa yang kita pilih untuk lakukan sekarang adalah awalan dari sesuatu yang akan kita peroleh dikemudian hari.
          Saya kira saya sudah mengantuk dan akan mencoba untuk menutup mata sejenak untuk sekarang. This is my story, where’s yours?

-       Nigs
         
         
         
         


Komentar

Postingan Populer