Teorema Kebahagiaan
Perjalanan membuat tidak nafsu makan kan?
Atau memang dengan berat hati saya harus disini?
Sudahlah.. memang ini waktu terakhirku untuk bertemu salah
satu saudara disini.
Dalam kisah pendek satu ini, pelajaran hidup tak kunjung
surut jika harus berdebat dengan Sang Prof. Bapak. Orang ini selalu mempunyai
solusi dan serangan debat meski diri ini sudah berguru diberbagai macam wadah
pengembangan diri. Sekritis apapun Bapak selalu akan menjadi lawan lidah yang
tidak akan pernah terkalahkan.
Mungkin belum..
Tunggu saja..
Pelajaran
satu ini akan mengulas tentang konsep kebahagiaan yang sudah diamanahkan oleh
Sang Kuasa sebagai anugerah dari setiap individu. Layaknya sebuah anugerah,
kebahagiaan sebenarnya sudah tertanam dalam diri kita namun sedikit yang dapat
mengerti essensitas yang terikat dalam suatu konsep dari kebahagiaan itu sendiri.
Siang yang kering di suatu desa entah di daerah Probolinggo,
keluarga dari sisi ibu pergi mengunjungi salah satu saudara. Tentu, daerah
pedesaan yang bergelombang serta latar yang panas kering dari awal sudah membuat
hati berat dengan interaksi-interaksi yang terjadi disekeliling. Topeng yang
harus dikenakan semenjak lebaran harus tetap dipakai karena sebenarnya waktu
lebaran yang tepat untuk kali ini adalah menyendiri. Banyak sekali hal yang
terlintas dalam benak ini sehingga membutuhkan ketenangan dan menyendiri, yang
akan menciptakan efek-efek slow-motion
seperti di layar tv. Tentu, waktu untuk memutuskan pilihan terbesar dalam hidup
itu tidak akan datang sampai aku bisa sendiri lagi di Surabaya lusa hari, untuk
itu diri ini bergegas untuk meracik hidangan yang disediakan oleh pasangan guru
SMA negeri.
Terong, Tempe dan ITB
Kecil, sederhana dan remang. Kata yang terlintas sejenak sambal
mendatarkan terong dan tempe diatas cobek batu. Sambal yang merah menggoda
harus ditakar karena merupakan orang yang tidak menyukai hidangan terlalu pedas
terutama sambal orang timur. Sesuap dua-suap sedang menikmati terong terbaik
yang pernah disantap, Bapak bergabung untuk menemani. Melihat Bapak selahap ini
dengan terong dan tempe dibandingkan makanan mewah yang selalu disajikan oleh
restoran ternama atau My K-pop-lover
sister yang tidak akan pernah berhenti memaksakan kreasi hidangan korea di
rumah, membuatku ingin bertanya.
“Aneh ga sihh Bapak.. Lulusan
terbaik ITB yang satu-satunya bisa meraih gelar tertinggi dengan waktu singkat
sekali pun hanya terpuruk makan terong tempe sebagai hidangan utama untuk
lebarannya… sedangkan orang yang dari lulusan tidak jelas saja yang mungkin bisa
makan steak atau hidangan mewah lainnya. Kita yang sudah berkerja keras dengan
jujur bukannya justru hidup enak didunia ini? Kenapa aku yang sudah dapat
kampus idaman masih merasa resah dan tidak sebahagia yang seharusnya?”
Menanyakan pertanyaan
ini sangatlah konyol karena saya tau jawabannya. Di negeri tercinta ini memang
terdapan kesenjangan yang begitu kontras, mata ini juga tidak bisa berbohong
jika memang terdapat suatu pergerakan gelap yang menyakiti negeri ini dari
bayangan. Mengharapkan jawaban semacam “Memang dunia ini tidak adil Nak” atau “Memang
sudah takdir kita”, Saya pun harus terpukul diam atas pernyataan dari Sang
prof.Bapak.
“Kamu pikir
Bahagia adalah suatu yang harus bisa diraih? Dibeli?”
“Pastilah.. Didunia ini banyak hal yang dapat
diraih jika kita punya kekuatan. Apa
yang kurang dari kita berdua dibandingkan mereka? Kenapa kita tidak sama?”
*Menjelaskan tentang keselarasan antara
kekuatan=kebahagiaan*
Teorema Kebahagiaan
Saya
percaya bahwa kebagiaan dapat diraih jika kita sangat menginginkannya. Keselarasan
dari pangkal pikiran yang logis selama ini saya pegang teguh merupakan suatu
konsep kebahagiaan yang hakiki. Teorema kebahagiaan ini menggunakan
keseimbangan antara usaha dengan hasil yang didapat sebagai output dari input
yang diberikan. Jelas Bapak bukan orang biasa, jelas usahanya lebih dari orang
lain dan jelas kekuatan yang dimilikinya begitu besar sehingga secara teori
kebahagiaan akan materi seharusnya sebanding. Orang yang hebat namun sederhana
selalu menjadi kelemahan dari teoremaku. Dirumus ini hanya ada penjelasan logis
mengapa kita menjadi orang hebat ditempat pertama. We want to have it all therefore we have to be the best in the first
place. Kita berusaha untuk hidup lebih mapan, lebih diantara yang lain,
untuk menyeimbangi hal tersebut usaha juga harus terintegralisir itu yang
selama ini ada di persamaan teorema ini.
Bukan bermaksud egois tapi bukankah seharusnya yang
berusaha lebih, selalu memiliki hidup yang diimpikan? Meraih kebahagiaan
hakiki?
Maaf Bapak tapi aku
pengen punya mobil bagus, makan makanan enak dan memiliki segala yang aku
impikan nanti karena aku akan berusaha lebih dari Bapak.
Teorema Kebahagiaan – by Prof
Mendengarkan
penjelasan yang membara Bapak hanya bisa mengunyah kerenyahan tempe dan
tersenyum sarkastis. Menelan santapan terakhirnya dan meminum teh hangat yang
sudah dihidangkan dan berkata,
“Seharusnya kamu melihat kebahagiaan itu sebagai suatu
pemberian dari Tuhan. Kebahagiaan masing-masing individu sudah tertanam dalam
diri mereka namun sedikit orang yang dapat memunculkannya kembali sebagai
anugerah terbaik yang pernah mereka dapatkan”
*bingung*
“Kamu pikir sendiri, tukang becak yang bermimpi dan
meletakan kebahagiaannya terhadap suatu materi yang tidak realistis seperti
mobil misalkan, akan mati dengan rasa tidak pernah mencicip rasa bahagia
didunia ini. Jika dia bisa bahagia dengan penghasilan yang didapat apa adanya sepuluh
ribu, besok dua puluh ribu alhamdullilah,
lusa tiga puluh ribu… dia akan mati dengan senyuman. Kebahagiaan tidak akan
pernah tercapai jika masih ada gap diantara kenyataan dan ekspektasi dari
individu. Coba kamu pikirkan lagi”
*Mengangkat piring makanannya dan meninggalkan ku dengan
semua penjelasannya*
Aku pun terdiam dan
berfikir sambil menghabiskan hidangan yang lagi-lagi sudah terdiam dingin
akibat perdebatan hebat.
Teorema Kebahagiaan –By Nigs
Setelah berpikir
panjang, rumus awal dari salah satu teorema kehidupan ini pun harus direvisi. Mungkin
selama ini, hidup yang ada di pandangan mata ini hanya terfokus bersifat
materialis dan maya. Sedikit persamaan kehidupan ini yang mengambil dasaran
anugerah, keajaiban maupun variable X yang hanya Tuhan yang mengetahui. Namun
ruang untuk berkembang masih ada dan masih ada waktu untuk memenangkan
perdebatan ini.
Kebahagiaan adalah salah satu anugerah benar, hanya kita
dan diri kita sendiri yang mengetahui jangkauan dari kebahagiaan kita.
kebahagiaan tidak akan pernah tercapai jika reactan yaitu realitas dan produk
yaitu ekspektasi memiliki jumlah yang berbeda. Jika diantaranya memiliki masa
yang berbeda, tentu reaksi kehidupan tidak akan mencapai keseimbangan. Bisa dikatakan
bersyukur tapi juga tidak. Jika memang kalian menginginkan sesuatu maka tidak
ada yang bisa menghalangi kalian untuk meraihnya selain kalian sendiri, namun
dalam setiap keinginan aka nada batas jankauan yang berupa kepahitan realitas
yang terkadang membutakan. Jangan biarkan keadaan mengendalikan pilihan, belum
tentu kebahagiaan orang lain yang kita lihat akan sesuai dengan jangkauan kebahagiaan
yang sudah dianugerahkan dalam diri kita. kenali apa yang kita anggap esensial
dan penting dibandingkan mendasari segala hal yang semata terlihat berkilau.
This is my story, where’s
yours -Nigs

Komentar
Posting Komentar