Kisah dibalik 39 Malam.
“University is just a group of buildings gathered around a library”- Shelby Foote
Bagi
sebagian besar masyarakat Indonesia, pernyataan seperti diatas tidak akan
mungkin pernah diterima. Tidak sedikit pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang
demi mendapatkan universitas impian, termasuk saya sendiri. Tentu, dalam hal
ini memang kita kalah dari segi sistem pendidikan dari beberapa negara. Apa
yang membuat negara-negara lain lebih maju dalam bidang sistem pendidikan? Apa
keunggulan sistem pendidikan luar dari negeri kita? Apakah ada kaitan sistem
pendidikan dan majunya sebuah negara?
Dari apa yang saya baca, negara-negara maju seperti
contohnya Australia sudah menerapkan kesetaraan universitas di negara mereka.
Kesetaraan inilah yang menjadi nilai yang sangat kontras jika dibandingkan oleh
sistem pendidikan kita saat ini. Kesetaraan yang ada dimulai dari kualitas
serta fasilitas universitas yang dapat mendorong pelajar untuk mendapatkan
motivasi untuk sukses dan mempromosikan integritas semangat juang. Tentu jika
dibandingkan oleh sistem pendidikan di negeri kita, masih banyak orang yang
memandang beberapa universitas sebelah mata. Sikap ini tentu dapat mencerminkan
laju pertumbuhan negeri ini dimana lambatnya kemajuan yang disertai oleh
masyarakat yang “ogah-ogahan”. Untuk itu
pertanyaan selanjutnya yang akan datang adalah bagaimana caranya untuk
mensetarakan sarana pembelajaran diantara seluruh masyarakat Indonesia.
Bagaikan rangkaian yang menyusun bagian yang menyeluruh,
masyarakat ialah suatu badan yang menyusun keseluruhan bangsa. Masyarakat
didalam suatu negara mencerminkan posisi suatu negara di panggung dunia.
Apakah benar, tempat
dimana kita kuliah akan menentukan takdir kita kedepannya?
Apakah benar,
Universitas ternama dapat menjamin kualitas kehidupan alumninya?
Harus banget kak PTN?
Pernyataan seperti ini menimbulkan berbagai macam
kesalahpahaman diantara para pencari Universitas termasuk saya sendiri. Saya
sering menanyakan kepada diri saya sendiri dan orang lain pertanyaan yang sama,
berulang-ulang kali sebelum saya memilih tempat untuk melanjutkan jenjang
pendidikan sesudah lulus dari bangku SMA. Kematangan dalam perencanaan yang
diikuti oleh tekad untuk menggapai mimpi memang bermain sebagai faktor utama
dalam kesuksesan. Tetapi, apa benar tempat kita kuliah akan berpengaruh
terhadap kualitas hidup kedepannya?
Jika
dilihat dari pengalaman saya, secara garis besar orang yang pernah saya temui
menyatakan bahwa tempat kita melanjutkan pendidikan/universitas berperan besar
terhadap kareer kita. Tetapi apakah opini mayoritas orang itu secara fakta
benar?
Secara rekaman alumni kita cenderung akan memilih tempat
dimana orang-orang sukses dilahirkan, yaitu dalam konteks tersebut adalah
memilih universitas-universitas dengan rekaman alumni yang sukses. Pola pikiran
itu tertanam dalam kebanyakan pikiran masyarakat Indonesia sekarang. To be
honest, I surely thought that way before. Even my parents want me to go to
specific university-_-. I can’t deny the fact that even I want to go to
specific universities, but now I realize that, it won’t matter if yourself
won’t change who you are for the sake of your future. Memang benar universitas
tersebut akan membantu anda kedepannya dengan adanya koneksi dan rekaman
alumni, tetapi selebihnya you are on your own.
Saya bercerita bedasarkan pengalaman. Bagaimana saya
menghabisakan waktu untuk berjuang dan belajar karena memang saya tidak
dianugerahi akal langsung pintar. Saya dan orang tua saya memperjuagkan untuk
mendapatkan universitas yang paling susah untuk dimasuki, tetapi no matter how
hard we tried those days, I still failed. It felt like a total failure and I
was forced to go to other university. My friend told me that it isn’t the
university that will bring you success, it’s yourself. Starting from here until
now, someone still believe in me DAN…, sesuai topik pembicaraan, dia percaya
bahwa tempat dimana kita mencari ilmu tidak masalah asalkan kita sendirilah
yang mempunyai semangat untuk mencari ilmu. Dari sekian banyak orang, Cuma beberapa
yang percaya itu.
Pengalaman
saya merubah pandangan hidup saya, berawal dari teman-teman yang tidak pernah
lelah untuk memberikan inspirasi tersendiri sampai lingkungan sekitar saya yang
merubah saya menjadi orang yang lebih baik. Dari kegagalan tadi saya belajar
bahwa Tuhan itu ada. Sukai atau tidak, anda berusaha sekeras apapun (believe
me, ga ada yang se-gila gua dalam hal berusaha) jika Tuhan dan orang tua tidak
menghendaki, semua tidak akan berjalan sesuai dengan harapan anda. Maka jadilah
orang yang pantas BUKAN orang yang bisa.
Menurut saya, tempat dimana kita melanjutkan pendidikan
tidaklah hanya tempat dimana kita menumpang untuk menggali ilmu. Dimanapun kau
berada, jika kau adalah pemenang kau akan focus untuk menang. Dimanapun kau
berada, jika kau adalah seorang pekerja keras, kau akan menjadi pekerja keras.
Untuk teman seperjuangan yang masih bersedih hati, mulailah lembaran baru
dengan semnagat perjuangan seperti kau memperjuangkan mimpimu dulu. Untuk calon
mahasiswa, gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan. Dimanapun kita
berilmu tidak ada yang dapat menjamin kehidupanmu kedepaannya, hanya dirimu
yang bisa. That’s why university that I’m in, do not define me and neither it
should to you. Know your place, don’t underestimate other people and stay
humble.
Para Kawan Seperjuangan
Nama saya
Muhammad Ilham Widiyantoko. Anak teknik sipil di Institut Teknologi Sepuluh
November Surabaya. Lulusan SMA Global Mandiri pertama yang bisa meneruskan
jenjang pendidikannya disini. This is my story, where’s yours?

Komentar
Posting Komentar