Kisah Seorang Mahasiswa [Part 1]

Kata “Mahasiswa” tersusun dari dua kata yang memiliki makna secara terpisah. Menurut KBBI “Maha” bisa berarti ter-amat sangat, dan kata “siswa” yang memiliki makna murid atau pelajar. Jika disatukan kata “Mahasiswa” dapat diartikan sebagai pelajar yang memiliki kedudukan paling tinggi. Mahasiswa biasanya dipakai oleh orang-orang yang baru lulus dan yang akan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Memang benar sih jika diliha dari konteks pelajar yang berkedudukan paling tinggi. Namun menurut opini saya, kata “Mahasiswa” adalah suatu gelar yang harus didapatkan. Seseorang harus dapat menunjukan keungulannya demi mendapatkan gelar nama “Mahasiswa” yang sebenarnya. Berasal dari pola pikiran yang revolusioner sampai sikap menuju kedewasaan yang akan membedakan pelajar SMA dengan Mahasiswa.
Untuk sepenuhnya menghayati dan mengerti apa arti dari kata “Mahasiswa” dan derajatnya di lingkungan kampus dan sekitarnya adalah dengan mengerti tanggung jawab dan tugas dari seorang yang disebut mahasiswa itu sendiri. Selayaknya anggota dari suatu kampus tertentu, seorang Mahasiswa harus dapat menjungjung tinggi nama kampusnya dengan hal-hal yang membanggakan sebagai bentuk kontribusi. Dari hal kecil seperti berprestasi di fakultas masing-masing sampai dengan meraih prestasi elit seperti juara kompetisi yang mengatas namakan kampus. Tidak hanya dibidang akademik, kontribusi social didalam lingkungan kampus sampai komunitas luar kampus.
Tujuan dibalik kontribusi yang mengatas namakan kampus adalah secara garis besar adalah mengharumkan nama kampus. Beragam dari kegiatan akademik hingga bakti social kepada komunitas sekitar kampus.

 “seorang tidak layak mendapatkan gelar jika tidak usaha”


Seperti yang kita sepakati, saya menganggap kata “Mahasiswa” lebih dari sebuah panggilan untuk bocah yang baru saja lulus dari bangku SMA. Saya menganggap kata “Mahasiwa” lebih seperti gelar yang harus didapatkan. Demi mendapatkan gelar dari sebutan “Mahasiswa” yang sebenarnya dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus dapat menjawab apa yang kita lebih ungguli dibandingkan adek-adek kita yang masih duduk di bangku SMA.  Semua orang pasti akan menjawab unggul dari segi umur, jangan salah.. ada yang masih duduk di bangku SMA tetapi umur sudah tua dan justru ada yang umur masih muda sudah kuliah. Unggul dari segi akademik? Hmm coba gua kasih soal sbmptn atau UN deh paling gabisa kerjainn haha..Bukan dari situ. Banyak hal yang dapat diperdebatkan mengenai isu perbedaan “Mahasiswa” dan siswa biasa. Tetapi jika kita melihatnya seperti ini maka setelah anda membaca bacaan ini anda dapat menggolongkan anda orang yang patut di panggil dengan gelar apa.
Bukti konkret perbedaan antara “mahasiswa” dan siswa biasa adalah dari segi psikologis. Untuk mendapatkan gelar “Mahasiswa” kita tidak mendpatnya secara otomatis karena kita lulus SMA saja, tetapi banyak hal lain yang harus dapat dirubah. Seperti contohnya “integrated mind” atau pemikiran yang lebih revolusioner dan luas. Dapat diartikan bahwa sebagai seorang mahasiwa yang berbeda dengan orang biasa adalah pemikiran yang lebih maju. “one step ahead”. Pola Pemikiran revolusioner dimana pemikiran yang dapat mengembangkan pengetahuannya yang sebelumnya menjadi yang lebih updated dan lebih matang untuk kedepannya. Mandiri dalam segala hal. Dalam pengalaman saya yang baru menyentuh seminggu disini, saya memang mengalami sedikit masalah dalam menyesuaikan dan merencanakan sesuatu karena masih melekat jiwa-jiwa SMA dimana hidup saya serba otomatis. BU mau makan! Ada makanan di meja, BU! Mau ke warnet, cabut langsung sambal minta duit. Sekarang…. Not so simple, saya harus memikirkan ulang semua variable yang mendukung suatu aksi yang saya lakukan.
 Bermulai dari bagaimana saya harus melakukan dan mengantar saya sendiri kesana hingga estimasi pengeluaran uang untuk mendukung aksi tersebut. Dengan kemandirian dalam mengelola kehidupan beserta konsistensi dalam mengeleminasi hal-hal yang tidak perlu, insyaAllah saya yakin anda dapat sukses hidup dan layak dipanggil sebagai seorang Mahasiswa. Manajemen waktu, merupakan contoh lain kriteria seorang Mahasiwa. Didalam buku “Metamorfosa” karangan kak Mukhlis said, seorang alumni ITS teknik industri yang membuat buku yang sangat luar biasa dan tidak akan habisnya menginspirasi saya setiap kali membaca, actually I am gonna meet him this week.. so excited, looks like ITS will held this seminar or talkshow on masjid ilmi and im looking forward to attend it, lol gue aja belum mahasiwa but selow lah, dia menyebutkan bahwa “ gagal dalam merencanakan adalah merencanakan kegagalan”. Salah satu Kutipan yang sangat bagus, dimana ada kaitan dari mengatur waktu dan merencanakan segala hal dalam kehidupan kampus. Mengatur segalanya termasuk waktu, merupakan salah satu dari variable yang tidak terlepaskan dari kehiudpan berMahasiwa. Dimana kita dengan sendirinya mengatur waktu dan hal-hal lain demi kesuksesan dan konsistensi dari kehidupan sehari-hari.
Layaknya hokum alam dengan segala rumus ilmiah yang mendukunganya, variable-variable ini bersatu menjadi rumus yang saling berhubungan dan saling mengisi demi kelengkapan sebuah hasil dari rumus tersebut. Dalam kasus ini adalah layaknya seorang di panggil “Mahasiswa” adalah menggunakan semua variable pendukung dan mempadukannya menjadi suatu kebiasaan dan suatu revolusi perubahan dari kelangsungan kehidupan didalam maupun diluar kampus. Dengan kesuksesan menggabungkan dan mempadukan semua variable yang dibutuhkan, niscaya akan mendapatkan kesuksesan dalam berkehidupan kampus dan layak dipanggil seorang “Mahasiswa” dari kampus tertentu.

 “semua akan berjalan mau disadari maupun tidak disadari”


Sangat disayangkan masa kecilku sudah tidak dapat dikembalikan lagi. Banyak hal yang berubah dan membentuk pola pikiran saya. Hidup akan terus berjalan, seperti yang ayah saya selalu katakan kepada saya, “semua orang mempunyai 24 jam untuk hidup, tinggal pilihan kamu bagaimana untuk mengisinya”. Pernyataan ini mengandung dua makna dimana hidup akan terus berjalan sukai atau tidak dan keadilan yang Allah berikan kepada semua ciptaannya dimana setiap orang memiliki hal yang sama. Untuk itu semua akan berjalan mau atau tidak. Hidup memiliki beberapa fase. Kita menyadari, saya dan angkatan 2016 sudah meninggalkan masa anak-anak dan beranjak ke masa muda. Masa muda yang dipenuhi oleh semangat yang membara. Petualangan untuk mengharumkan nama dan menyusun masa depan pun dimulai.
Setiap orang memiliki caranya sendiri. Saya layaknya manusia yang rasional, harus dapat menghargai setiap pilihan orang lain. Pilihan orang yang menurut kita tidak betul dan rendah harus dihilangkan. Tidak ada pilihan yang dipilih karena pemikiran yang asal. Semua pilihan orang lain adalah pilihan besar untuk hidupnya. “ihh kok ga kuliah, kok malah dagang” – pernyataan yang sering dikemukakan seorang “pelajar” kepada temannya yang memilih untuk meneruskan usaha kecil-kecilan. Kita sebagai “Mahasiswa”, harus dapat berfikir diluar itu, melebihi statemen itu. Pilihan dia untuk melanjutkan usaha nya adalah pilihan besar hidupnya, selayaknya kita sebagai manusia harus dapat menghargainya. Jangan sombong lho, nanti kalo usaha nya sukses lu yang kuliahan mati-matian jadi pegawainya dia, dia yang lu ejek-ejek bisa jadi bos lu nanti. Kasarnya seperti itu.
Maanfaatkan lah waktu seefisien mungkin. Waktu adalah variable alam yang tidak dapat ditarik lagi. Bisa sih kalo mau mah cari tuh “dark matter” terus kamu harus travel at light speed in order to reach stable equilibrium to achieve time travel but still it counts as time travelling not really getting your old self back is just time travel you know. Sesuatu variable yang paling berharga dalam hidup kita. Setiap orang memang berbeda dalam mengisi waktu mereka. Dari Teman gua sulay yang sangat menginspirasi gua setiap saat dulu zaman SMA mewarnai dunia warnet, sampai  temen dekat saya halbin yang belajar mati-matian selama sebulan lebih demi lulus test di german agar dia tidak di deportasi. Saya sendiri sangat menghargai pilihan mereka. Saya sangat tertarik didekat teman-teman saya dan saling berbagi pengalaman hidup. Saya suka menghabiskan waktu dengan belajar dan bertemu teman. Teman bisa menjadi salah satu variable yang tidak kalah berharganya di dunia ini. Maka maanfaat kan lah waktu mu dengan baik. Isi waktumu dengan hal-hal yang membuat mu nyaman, meskipun di mata orang itu salah dan rendah. Buktinya ada orang yang tidak mempercayai bahwa sulay dan halbin bisa sukses, tetapi mereka bisa membuktikan bisa. Toh juga yang belajar mulu kulihannya belum tentu jelas.

“cari hal positif dari segala kesempitan keadaan” 

Segala sesuatu terjadi karena itu yang seharunya terjadi. Setiap permasalahan yang terjadi di kehidupan kita hanya akan membuat kita menjadi dua hal. It will break us or it will make us. Cuma itu, dan itu tergantung anda untuk menghimbau output dari segala masalah yang ada di hidup kita. Sebagai seorang “Mahasiswa” kita harus melihat lebih jauh dari segala sesuatu. Dimulai dari hikmah kehidupan sehari-hari sampai setiap permasalahan yang datang kepada kita. Semua hal baik maupun buruk terjadi karena ada alasan dibalik peristiwa tersebut yang kita harus petik untuk menjadikannya pelajaran dalam kehidupan ini.

Sebagai konklusi, kata “Mahasiswa” merupakan sebuah gelar yang memiliki makna lebih luas dibandingkan dengan makna anak yang baru lulus dari bangku SMA. Dengan adanya bukti konkret dari perbedaan ini, kita dapat menarik suatu garis besar dimana ada suatu tanggung jawab yang harus dilakukan dan perubahan secara mental dari dalam hati dari setiap orang yang layak dipanggil Mahasiswa.

Komentar

Postingan Populer