Kisah Pagi di Sepuluh November

“Grades don’t measure intelligence and age doesn’t define maturity”         

          It was one of those lazy Sunday morning when I wake up with the noise of my annoying yet beautiful alarm, and of course is ariana’s. I woke up usually before the mosque beside my dorm do the adzan for shubuh. I was up early because I am excited for today’s agenda, motivation and talk show held by ITS. The talk show was intended for muslims only, I’m not sure but the event was held in Ilmi mosque. I had a great time today, listening and meeting great lecturers and made friends with other new kids like myself. Throughout the event, the lecturers talked about their amazing achievements and how they survived their college year with bunch of experience. I was so inspired on what they shared with us today, and I can’t wait to write it out now.
          I started the day right with waking up early and ate some good breakfast. I was so excited because one of the three lecturer was the writer of the book called “metamorfosa” which I read them during the holiday. The event was intended to give freshman a good Idea of college life and how to survive on ITS. The event was organized properly, although as we know in Indonesian culture, half an hour late start is not a big of a deal. As the event entered its main events there are some points that caught my attention. Sorry for the inconsistency of using Indonesian, because I can recall things easily in Indonesian :P

 

1.    Pengalaman serta pelajaran hidup dapat diperoleh dari siapa saja, dimana saja dan kapan saja.


Salah satu topik yang membuat saya tertundup kagum adalah statemen salah satu pengisi acara dimana dia menyebutkan bahwa usia tidak dapat mendefinisikan kepintaran dan pengalaman. Tentu pada banyak situasi usia memang menandakan perjalanan hidup yang lebih lama yang di iringi oleh pengalamannya. Seperti yang ibu dan ayah saya pernah katakan setiap saya tidak setuju dengan mereka, “kita ini lebih tua le, kita hidup sudah lebih dari kamu percaya sama bapak”. Jujur, memang perkataan orang tua memang selalu benar. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terjerumus kesalahan yang sama yang pernah mereka alami. Tetapi adakah kaitannya dengan kepintaran secara ilmiah?
Sepintar-pintarnya dan sehebat-hebatnya seorang anak, anak itu harus tunduk hormat kepada kedua orang tuanya. Hal ini dapat saya rasakan ketika ayah saya selalu bilang bahwa “bapak bukan lagi orang terpintar dirumah”. Saya diberkahi oleh akal yang cerdas yang sekarang bisa berkembang dan tumbuh jadi pribadi yang mandiri dan kuat, karena semata jerih payah orang tua saya. Saya tidak akan sepandai ini jika malam-malam dulu ketika ditengah kesibukan ayah saya, dia masih menyisihkan waktu untuk mengajari anaknya yang cengeng dulu. Dari sebuah ilustrasi ini, hubungan usia lebih berpengalaman hanyalah nilai budaya dan moral saja. Menghormati dan menghargai orang yang lebih tua adalah suatu kewajiban social yang sudah ada sejak dahulu kala. Fakta dapat membuktikan bahwa seorang dewasa masih bisa belajar dari seorang anak kecil. Konteks di dalam perkuliahan yaitu mahasiswa. Dosen yang sudah bertaun-taun memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih masih dapat belajar dari anak-anak bimbingannya. Oleh karena itu, janganlah berhenti mencari ilmu. Belajarlah dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Waktu yang tepat untuk berhenti mencari ilmu adalah pada saat anda memasuki lubang kubur.
Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang dapat belajar dari pengalaman orang lain demi menciptakan sebuah mind set yang berbeda dari diri kita sebelumnya. Salah satu pengisi acara menyarankan bahwa kita harus memperbanyak untuk membaca buku tentang biografi seseorang. Mengapa demikian? Alasan pada kebiasaan ini bisa dilihat dari isi kajian sebuah biografi seseorang. Biografi berisikan pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Tidak hanya sampai disitu, biografi dapat menceritakan kata-kata atau suatu persepsi tokoh biografi dalam menghadapi setiap permasalahan yang dialaminya. Secara logika, Jika kita membaca biografi tentang B.J. Habibie, kita dapat merasakan pengalaman hidupnya selama 70 tahun dengan beberapa hari saja. Bayangkan kita membaca 10 biografi tokoh-tokoh laiinnya. Kita sudah mendapatkan pengalaman hidup selama 700 tahun dari membaca biografi-biografi orang lain. Statemen ini membuka persepsi saya mengenai karangan biografi. Saya sebelumnya tidak mengetahui seberapa kuatnya karangan biografi bisa membuat kita lebih membuka diri kita terhadap setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita. kunci dalam mengubah pandangan kita hanyalah konsistensi dalam melakukan hal-hal yang penting di dalam kehidupan kita sehari-hari yang nantinya bisa menjadi suatu habits atau kebiasaan yang baik dan menguntungkan.
Bapak Ario Muhammad, salah satu pengisi acara, adalah seorang yang saya kagumi dari banyaknya pengalaman dalam prihal berilmu di beberapa sekolah ternama di dunia. Dia tidak berhenti berpindah-pindah untuk belajar dan mengajar di berbagai kampus di dunia. Hal yang saya dapatkan dari beliau adalah dimana saja asalkan adanya suatu niat dan kegigihan untuk berusaha, disitu kita dapat belajar. Dia menceritakan betapa sulitnya menyesuaikan budaya dan berbahasa asing selain inggris dan juga indahnya menjelajahi dunia tidak dalam menggali ilmu nya saja, tetapi berlibur dan melihat dunia dari mata kepala sendiri. Dari pengalaman saya yang pernah tinggal diluar negeri selama 3 tahun, penyesuaian adalah tantangan yang terberat. Dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang wajib dilakukan untuk menuai kesuksesan di tanah asing tersebut. Saya sering membandingkan budaya dan system-sistem yang digunakan oleh negara luar. Dimana system pendidikan mereka lebih visioner daripada yang kita punya dan majunya fatilitas yang mendukung semua kinerja mereka.
Ada suatu Haditz Rassullullah yang bersabda, أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ - “tuntutlah ilmu sejak dalam nuaian hingga lahat”. Haditz ini tidak jarang kita temui, biasanya orang-orang menggunakan haditz ini untuk membuka suatu statement keagamaan yang berbau keilmuan. Apa yang menjadi arti dibalik haditz ini?
Disadari atau tidak, sejak kita masih balita, kita sudah menanyakan dan ingin mengetahui banyak hal. Rasa mencari ilmu sudah ada didalam jiwa kita yang sesuai dari haditz tersebut. Kita layaknya seorang manusia harus haus akan pengetahuan. Pandangan orang mengenai sesuatu berbanding lurus dengan pengetahuan yang dia punyai. Semakin kita mencari tau, melihat sesuatu dan merasakan sesuatu, kita dapat meluaskan cara pandang kita dan merubah pola pikiran sesuai dengan pengetahuan baru yang terus kita dapati. Mencari ilmu tidak hanya dengan membaca buku dan belajar. Mencari ilmu dapat didapatkan dengan berbagi pengalaman dengan orang lain atau sesederhana seperti melihat dan mencoba sesuatu yang baru untuk pertama kalinya.
Jangan berhenti dengan pengetahuan yang kita miliki. Jangalah puas dengan apa yang kita punya. Saat yang tepat untuk mengakhiri petualanganmu mencari ilmu hanya dan hanya jika, engkau dipertemukan oleh ajal itu sendiri.

2.    Tidak ada yang akan menjamin semua hal yang terjadi di masa SMA akan terulang di masa Kuliah.
 

Mas Okto Fenno, salah satu pengisi acara yang saya paling kagui diantara ketiganya, menyenggol suatu topik yang tidak kalah menarik yaitu mengenai perbedaan keadaan pada SMA dan kuliahan. Dia menyinggung bahwa tidak ada yang menjamin dengan IPK bagus, anak itu pintar. Suatu kepintaran adalah ukuran universal dengan suatu indicator yang beragam. Tidak hanya dilihat dari IPK, setiap orang memiliki masing-masing kriteria mereka sendiri untuk mereka definisikan sebagai orang yang pintar. Dengan itu dia mengatakan bahwa, seseorang yang berprestasi di SMA belum tentu akan berprestasi nanti di masa kuliahanya. Masuk didalam sebuah perguruan tinggi bisa di analogikan sebagai membuka pintu dimana anda tidak mengetahui apa dibalik pintu tersebut. Hutan belantara yang anda harus mengikuti serta memahami hokum rimba untuk dapat bertahan didalamnya. Kembali ke topik sebelumnya, status sebagai orang yang berprestasi atau ketua ini-itu maupun kondisi keuangan tidak akan berpengaruh dalam proses and mencari jati diri anda dalam masa kuliahan. Mas Okto menekankan bahwa semua yang ada disini sama dalam penentuan diri sendiri. Pencarian jati diri adalah suatu hal yang orisinil yang setiap orang berbeda dalam memilikinya.
Seperti apa yang tadi ayah saya katakan kepada saya, dikuliahan ini saya hanya bisa memilih satu dari keempat opsi. Menjadi seorang ilmuan semasa kampus, menjadi seorang wirausahawan kampus, menjadi seorang sosialita dengan segala urusan berorganisasi dan kepentingan bakti sosial yang lainnya, dan yang satu lagi saya lupa hehe. Dia mengatakan bahwa untuk memilih lebih dari satu adalah hal yang susah, mungkin bisa dilakukan, tetapi ayah saya menyarankan untuk fokus menekuni passion yang saya miliki dan geluti bidang tersebut.
Senada dengan apa yang ayah saya bilang, Mas Okto juga menyebutkan hal yang sangat mengguncang kepercayaan saya dan mengubah sudut pandang saya. “seseorang yang berprestasi tidak perlu mengikuti dan memenangi perlombaan dan kompetisi. Passion yang nanti akan mengantarkan kita untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaaat yang nantinya akan menghasilkan prestasi”. Dia memiliki banyak teman yang tidak kuliah tapi bisa menggeluti dan memfokuskan perhatiannya kepada peluang, maka dia bisa menjadi sukses dan berprestasi dalam hal yang dia geluti.

3.    Masa kuliah adalah masalah selektif


Saya lupa siapa yang menyinggung hal ini, saya sangat menghormati dan mengagumi ketiga pembawa acara dan moderator yang selalu membuat suasana semakin menarik. Maksud dari hal ini adalah bagaimana kita memilih suatu tempat serta pergaulan yang tepat. Bukan maksudnya memilih teman atau mengasingkan orang, kita harus menjalin hubungan baik kepada setiap orang, kita harus melakukan masa selektif internat untuk diri kita sendiri. Dengan hal ini kita dapat menyesuaikan dan mengembangkan potensi kita di sekeliling yang positif yang dapat mempromosikan hal positif tersebut.

4.    Ibadah adalah hal yang terjadi ketika teori bertemu dengan implementasi.


Bapak Ario Muhammad memberikan sebuah statemen yang membuat wajah-wajah se-mesjid bertanya-tanya. Dia mengatakan bahwa ada puluhan ribu masjid yang ada di Indonesia, dan banyak juga masjid di daerah keputih sini yang secara logika membuat negara Indonesia memiliki aktivitas ceramah masal terbanyak di Indonesia, terutama hari jumat. Namun, dengan semua itu, mengapa masih banyak maling, aksi pemerasan dan korupsi dan hal lainnya yang terjadi di Indonesia?
Dia menjelaskan harus adanya “ikhsan”, menjiwai apa yang kita lakukan. Sebagai seorang muslimin, ibadah kita tidak lengkap jika tidak ada unsur ikhsan di dalam hati kita. untuk itu, menurut saya harus adanya revolusi mental dengan sifat ikhsan diantara masyarakat Indonesia untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan secara merata.

Untuk itu itulah beberapa hal dari ratusan hal inspiratif yang saya dapatkan dari SONITS Talk Show, jika ada MABA yang membaca ini tahun depan, saya merekomendasikan untuk ikut jika ITS masih memfatilitasi. Saya sangat berkesan dan mengagumi setiap orang yang hadir tidak hanya pembawa acara dan semua pihak yang berhubungan untuk menyukseskan acaranya, juga rekan-rekan seperjuangan saya yang melawan kantuk pagi dan mendedikasikan diri untuk mengahadiri acara ini. Saya ingin berterimakasih kepada panitia dan pihak yang bersangkutan demi menyukseskan acara ini.
I had a great day today and looking forward for another talk show and seminar. I hope someday I can be a part of it and inspired others too.


“This is my story, where’s yours”- nigs

Komentar

Postingan Populer