Kisah Seorang Pelajar
“Bukan lautan hanya kolam susu”
Indonesia, negara kaya akan budaya. Negara yang berbentuk
kepulauan yang terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau dengan diversitas
keberagaman. Negeri indah sejuta pesona ini membentang dari sabang sampai
marauke ini memiliki 746 bahasa serta lebih dari ribuan kebudayaan yang
berbeda, menjadikan negeri ini penuh dengan keindahan keberagaman dan kekayaan
akan budaya. Selama berabad-abad, semua negara telah mengakui potensi-potensi
yang dimiliki oleh bangsa ini, dari kekayaan sumber alam yang ada sampai daya Tarik
atas kekayaan budaya yang ada di dalamnya. Mungkin itu yang seharusnya
dipertahankan sebagai jati diri negara Indonesia, tetapi apakah semua budaya yang
kita miliki bisa kita menjadi modal persatuan? Apakah sikap masyarakat Indonesia
yang berkembang seperti sekarang ini dapat menghargai kekayaan budaya yang
dimiliki?
Tentu, seperti yang kita sadari di akhir zaman ini,
fenomena dimana terkikisnya budaya Indonesia akibat daya serap masyarakat
Indonesia terhadap dampak globalisasi. Lunturnya kebudayaan ditandai dengan
sikap ke-modern-an yang dilengkapi
dengan sikap keterbukaan masyarakat. hal yang perlu ditanggap dengan serius
adalah kedatangan budaya-budaya barat serta budaya negatif lainnya yang dapat
menggantikan budaya jati diri Indonesia yang telah lama melekat pada bangsa
ini. Banyak dari kita yang menghiraukan seolah-olah perkembangan di segala
bidang patut di sikapi sebagai pengganti kebudayaan asli Indonesia. Hal yang
mulai kerap ditemukan dimana kebudayaan asing sudah dapat merasuki dan
mempengaruhi generasi muda Indonesia tidak sedikit ditemukan. Fenomena ini mau
disadari atau tidak sudah berlangsung lama dan secara perlahan mengikis ideology
serta membentuk pemikiran masyarakat sekarang ini. gausah itu deh, kebanyakan
barang yang aku punya dan pakai adalah produk luar. Ketidak-mampuan hasil
tangan Indonesia dalam bersaing di dunia internasional juga merupakan salah
satu alasannya. Oleh karena itu, mengembangkan kemandirian dalam mengelolah
serta menciptakan barang berkualitas perlu ditanggapi sebagai usaha untuk
memperbaiki baik permasalaha ekonomi serta sosial budaya.
Budaya ke-baratan tentu bukan masalah yang ada. Kebudayaan yang
negatif dimana masyarakat Indonesia berperan langsung untuk menciptakan budaya
yang negatif itu sendiri. Kebudayaan yang negatif bisa didefinisikan sebagai
sikap masyarakat Indonesia dalam menyikapi kehidupan berbangsa sehari-hari. Contoh
kecil dimana fenomena malas membaca kerap melanda setiap strata dari masyarakat
Indonesia. Tentu, kebudayaan negatif yang terlahir tidak lepas dari dampak
globalisasi, namun sebagai masyarakat yang berbangsa dan beragama, layaknya
kita menyaring pengaruh yang dapat meracuni ideologi bangsa kita sendiri. Fenomena
terlahirnya kebudayaan baru tidak lepas dari sikap egoisme untuk menguntungkan
suatu pihak diatas kepentingan berbangsa. Sikap ini dapat dilihat dari
perebutan jabatan dipapan atas yang lebih mementingkan “Link-link” atau “titipan”
dari pejabat sebelumnya daripada kualitas dan martabat manusianya itu sendiri. Hal
ini terbukti dari kualitas lambatnya laju perkembangan negara ini disertai
banyaknya tikus-tikus yang mencuri porsi rakyat. Bisa dikatakan, untuk
mempertahankan “kekayaan 7 turunan”, keturunan harus diposisikan segenap rupa
agar memiliki takdir yang sama dengan sebelumnya. Sebuah aksi negara berkembang
tetapi dimana aksi monarki kecil demi mempertahankan tahta dan jabatan yang akan
diturun-temurunkan sedikit demi sedikit, dari suatu instansi ke instansi yang
lainnya. Tidak hanya itu, contoh lain dimana murahnya nama hokum sampai bisa
dibeli rakyat komersial dan monopoli segala aspek jika suatu mempunyai
kekuatan. Tidak ada yang dapat diperbuat untuk merubah segala sistem yang sudah
melekat. Semua dibutakan oleh kekuatan dan kekuasaan. Seperti yang Ayah saya
selalu bilang, jika kita ramah pada tetangga dan lingkungan sekitar kita, toh
juga yang pertama mendapat keindahan adalah kita sendiri, yang mendapat
oleh-oleh pertama kalinya jika kita baik kepada tetangga juga kita. saya
bingung atas azas hidup ‘ideal’ yang selalu orang tua suapkan kepada saya,
namun semakin saya tumbuh dewasa saya haya percaya satu hal, “things nothing like
thee seem”. Kadang hidup tidak memakai logika, jika perkataan ayah saya benar,
mengapa para koruptor masih mengambil uang rakyat dan melambatkan roda daro
perjalanan kesejahteraan. Toh jug ajika Indonesia berkembang dan ada nya
kesetaraan kesejahteraan juga mereka ikut senang. Ga perlu nyari uang banyak
untuk berlibur ke paris atau Disneyland jika memang kita cukup sejahtera untuk
membuat nya di negeri kita sendiri. Aneh memang jika hidup memakai logika. Semuanya
bermain dengan aturan mereka sendiri, mengapa engkau masih main dengan
peraturan bersaman? karena itulah yang membedakan mereka dengan kita. seorang
patriot bangsa tidak hanya dengan berperang, bisa juga menjiwai setiap apa yang
dikerjakan dengan semangat kebersamaan dan nasionalisme. Mahasiswa yang masih
bodoh dan sok tahu aja tau mana yang baik, masa yang sudah doktor dan menduduki
sebagai wakil rakyat masih mau memiskinkan rakyatnya?
Saya tidak bilang semua seperti itu, saya hanya sangat
bersedih bangsa yang seharusnya menguasai dunia terhambat dengan moral-moral
dan pemikiran yang egois. Saya sangat bangga dengan Indonesia dan
lembaga-lembaga yang bekerja siang-malam demi memenuhi tujuan dan cita-cita
bangsa. Malu kepada orang-orang yang merugikan bangsa sendiri demi kepentingan
suatu pihak. Semoga Tuhan masih bersama mereka dan mendoakan semua yang
mewakili jiwa Indonesia bisa menjadi cerminan dan panutan untuk kita, sebagai
penerus bangsa, untuk melihat para pendahulu sebagai contoh.
Dengan penyakit
moralitas yang sudah menyebar luas dan melekat pada setiap inangnya, masyarakat
sepele seperti saya hanya bisa berdoa dan berharap suatu hari nanti jika saya
menjadi orang besar akan merubah sistem yang lama dianut. Namun sebagai pemuda
penerus bangsa, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi berkembangnya
budaya ini. Belajar dengan sungguh-sungguh dengan semangat untuk mengabdi
kepada bangsa dan negara dan tentunya beriman kepada Tuhan YME.
“This is my story,
where’s yours?”-Nigs.

Komentar
Posting Komentar