Kisah Sang Coelenterata

[ Kisah 101 teman inspiratif eps.1 ]
          

Adzan shubuh berkumandang sangat jelas di telingaku. Aku tidak mengingat kapan terakhir kali aku bangun di tempat tidur rumahku. Selama 40 hari dan 39 malam hanya tidur beberapa jam saja yang ditemani oleh orang arab dari jember, aku tentu saja tidak mengingat kapan terakhir kali aku tidur disini. Aku pun langsung terbangun mengingat hari ini adalah hari besar hidupku. Dengan dinginnya shubuh ditemani oleh perasaan gugup dikarenakan hari ini adalah test kesehatan fisik STAN. Ya benar, saya lolos ujian tulis STAN tahap pertama pada saat saya masih belajar untuk SBMPTN di Supracamp. Pada tahap awal saya mempersiapkan bersamaan dengan pembelajaran SBMPTN, meskipun materi sedikit berbeda. Materi Bahasa inggris nya terutama. Materi STAN hamper mirip dengan test TOEFL dimana ada beberapa grammar dan bacaan wacana. Selain itu, tes potensi akademik juga berbeda dengan SBMPTN mungkin sama dengan TPA SBMPTN tahun 2000-an. Singkat cerita, saya lolos dan lanjut ketahap berikutnya yaitu tes kesehatan. Tes kesehatan di selenggarakan 2 hari setelah ujian SBMPTN waktu itu, dan hari terakhir ujian SBMPTN saya langsung menuju Jakarta untuk mempersiapkan tes yang selanjutnya.
Pagi itu saya sangat bersemangat karena malam pasca tes kesehatan STAN saya akan mengikuti Prom yang diselenggarakan oleh sekolah saya. Setelah 40 hari 39 malam tidak bertemu teman-teman angkatan, rasa rindu dan ingin bertemu terus bergejolak di hati saya. Membangkitkan semangat pagi, menghilangkan kantuk dan langsung bergegas pergi untuk menyelesaikan test tersebut.
Sepagi adzan shubuh tetap saja, mendapatkan nomor antrian 105 bukan seperti yang diharapkan. Kali ini saya merasa setiap anak sangatlah serius dengan apa yang akan mereka hadapi kali ini. Tidak seperti yang tahap pertama, meskipun kursi bagian atas sekeliling lapangan gelora bung karno terisi dengan penuh, saya masih harus menunggu sedikit lebih lama karena banyak nya peserta yang berdatangan terlambat. Setelah lulus tes kesehatan dan mengikut tes kebugaran, saya bergegas untuk menemui teman dekat saya yang bernama Fabio.

Batu banget sih lu fab, capek gua ngasih tau nya”


Fabio is the most complicated person I ever met. Salah satu teman yang tidak ada habisnya memberi inspirasi baik dalam segi akademik dan pelajaran hidup dengan hal-hal baru yang saya belum pernah pikirkan sebelumnya. Dengan segala ketidak-pastian hidupnya yang diperindah dengan pola pikir yang aneh dan berbeda,saya masih dapat melihat bahwa ia memiliki potensi untuk menjadi orang yang lebih baik dari ini dan pastinya orang yang besar nantinya. Pola pikir Fabio yang sampai sekarang masih tidak saya pahami tidak pernah berhenti untuk membuka mata saya bahwa pandangan saya selalu benar. Mungkin pandangan yang saya dan semua teman saya punya untuk Fabio, tidak sesuai dengan jalan hidupnya. Meskipun seperti itu, dia dapat menjalani hidupnya berpegangan dengan prinsip yang dia punya dan itu yang menjadi salah satu yang saya kagumi dari seorang Fabio.
 Pertama dengar mengenai Fabio pada hari besar taun baru cina. Pada saat itu akan diadakan halal bihalal di kelas 10. Sebelum mendengar ada seorang anak baru di kelas, saya sibuk mendekati wanita yang bernama Vidya waktu itu. Saya inget sekali pada saat saya masuk telat pada ruangan kelas semua berkumpul di dalam seperti mengelilingi seseorang. Itulah cerita bagaimana saya bertemu si anak baru tersebut. Orang-orang kelas ku sudah mengenali dirinya, sebagai best akademik saat smp disertai beasiswa penuh masuk SMA swasta, salah satu SMA swasta ter-gengsi di Jakarta. Pada saat itu saya merasa sangat terbebani kaena keberadaan dia. Saya pada semester itu sudah mendapatkan saingan berat dikelas dan ini di tambah lagi genius dari smp global. Singkat cerita, Tidak lama kami saling membuka diri dan menjalin hubungan teman dekat yang terjaga sampai sekarang.

“lu kenapa polip terus gitu fab”

         
          Masa SMA adalah masa dimana kenikmatan duniawi benar-benar terasa. Seiring dengan waktu kami sempat dipisahkan di kelas 11. Saya terus berprestasi dari awal kelas 10 sampai waktu itu, namun sebaliknya dia, sangat disayangkan, tidak mendapatkan kesempatan itu. Segala pelajaran dan ujian terasa berat dimatanya sampai dia melalui masa polip-nya. Polip adalah suatu masa, biasanya pada hewan ber taxon rendah, dimana dalah hidupnya memiliki 2 fase. Fase medusa adalah fase bergerak dan fase polip yaitu fase berdiam di suatu tempat. Pada awalnya semua teman-teman meminta saya untuk mengajarinya supaya tidak polip. Pada awalnya saya tidak tau apa itu arti polip selain suatu fase yang dimiliki oleh organisme dibawah laut, tetapi pada saya melihat dengan mata saya sendiri saya tidak dapat menahan tawa. Tidak ku sangka dia benar-benar terdiam merenungi nilai jeleknya. Saya sudah melihat beberapa kejadian sebelumnya di kelas 10 tetapi tidak menyangka sampai waktu itu masih seperti itu.
          Dunia luar tidak akan tau seberapa susahnya sekolah di SMA Global. Walaupun mereka hanya memandang sebagai sekolah swasta biasa tetapi intensitas dengan kualitas pembelajarannya tidak kalah dari sekolah-sekolah negeri biasa. Memang kadang terasa lambat karena sekolah swasta dipandang mempedulikan anak yang ketinggalan sedangkan negeri kurang, mungkin itu yang memperlambat proses pembelajaran. Tetapi justru dapat mempromosikan kesejajaran pengetahuan yang didapatkan tiap masing-masing anak didalam kelas. Despite all that, lulusan keluaran global beberapa juga ada yang mencatat prestasi yang membanggakan untuk itu jangan melihat orang dari mana tempat dia lulus.
          Masa SMA memang masa dimana nakal-nakalnya bocah yang baru beranjak ke masa remaja mereka. Jujur, kelas yang di tempati Fabio bukan tempat yang cocok buatnya. Memang sangat seru bergabung dengan teman-teman baiknya tetapi untuk segi pembelajaran mungin tidak begitu efektif. Seiring dengan terus berprestasinya saya di waktu itu saya mulai melihat sesuatu yang membingungkan. Saya percaya bahwa intelegensia orang tidak dapat hilang begitu saja, mungkin hanya sekedar “lupa rumus” but saya melihat Fabio berbeda. Saya tidak bilang Fabio itu tidak pandai atau berubah pasca dia keluar dari SMA nya, tetapi apakah mungkin segenap intelektual bisa hilang dalam kurun waktu yang sangat singkat. Saya sering berbincang dengan teman dekatnya, dan memang Fabio yang sekarang mungkin berbeda dengan yang dahulu. Apakah mungkin ada sesuatu yang terjadi dengannya selama itu. Pertanyaan itu kerap membuat saya ingin mencari tau apa penyebab dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi kepada manusia. Mungkin saya harus melakukan percobaan social nantinya tetapi itu tidak penting sekarang. Semua orang memiliki kekurangan dan kelenihan yang tersendiri. Susah diakui bahwa orang terdekat saya seperti Fabio ini dan yang lainnya memiliki kelebihan melebihi kemampuan saya. Sebanyak-banyaknya buku yang saya baca tidak akan pernah mengimbangi segala sesuatu yang teman saya berikan kepada saya. Yaitu sumber inspirasi dan pelajaran hidup.
          Teman saya Fabio memang orang yang tidak dapat ditekan. Mungkin itu salah satu karekteristik psikologis yang khas dimilikinya. Suatu hari, di sebuah mall Surabaya, saya, pepi dan Fabio sedang mencari makanan. sebelum dia mengerjakan ujian FK Unair, saya menanyakan apa yang akan terjadi jika dia tidak mendapatkan ujian negeri terakhir untuk cita-citanya. Fabio adalah orang yang tidak tau kapan untuk menyerah. Tes demi tes dia jalani untuk menggapai cita-citanya. Berpegangan pada suatu prinsip yang kuat dimana dia sangat ingin sekali menjadi seorang dokter seperti kakaknya dan seperti yang keluarganya inginkan. Hal yang saya kagumi dari seorang Fabio adalah kegigihannya untuk bertahan di jalan yang dia inginkan sejak dia menginjakan kakinya di SMA. Tekad bulat untuk menggapai mimpinya tidak pernah gagal mengejutkan saya setiap orang bercerita tentang dia. Oleh karena itu, dia dengan yakinnya mengatakan akan berusaha setaun kedepannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Selama saya jauh dari teman-teman selama 40 hari saya sempat berbincang dengan nya. Mungkin malam itu kita memang berbeda tujuannya, jam 3 pagi dia sedang menunggu kick off bola sedangkan saya sedang memecahkan rumus relativitas waktu. Pada waktu itu saya ingat sekali dia tidak yakin akan kemampuan dia untuk mendapatkan FK UI, jurusan ter-gensi se-Indonesia waktu itu dan berencana untuk merubahnya. Beberapa minggu kemudian saya menanyakannya lagi, tetapi jawaban kali ini berbeda dengan malam itu. Dia yakin bisa mendapatkannya dan yang lebih mengagumkan lagi adalah dari 3 pilihan yang ditujukan kepada masing-masing peserta, dia hanya memilih satu.
Satu tujuan dan satu tekad asli. Pilihan pertama dan pilihan satu-satunya, FK UI.
Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat prom bersama. Walaupun dipenuhi rasa kantuk yang masih menjerat selama tidur di rumahnya, kami pun bisa sampai dan datang dengan selamat.

”one of the person I trusted the most”


Gua mengenal Fabio mungkin hanya 3 tahun tetapi saya menganggap dia sebagai saudara saya sendiri. Only 3 people that had ever seen me cry and break-down sejauh ini. Dia adalah salah satu orang itu. Saya mempercayainya jika saya sedang merasa berada di bawah. Layak nya seorang teman yang lainnya, kita sesama menjaga untuk satu dan yang lainnya dan terus menjalin hubungan silaturahmi diantara kita. Ini adalah salah satu dari banyak nya cerita tentang teman-teman saya yang saya sangat kagumi.


Saya dan Fabio berpose untuk foto bersama spesies langka yaitu:
 "pepichantropus" (tengah).

This is my story, where’s yours? –Nigs



P.S: this entry had been approved by the following subject.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer